Melihat Pondok Pesantren (Ponpes) Haji Miskin dari Dekat

Miskin Fasilitas, Tapi Tidak Miskin Ilmu

Lima belas tahun sudah Ponpes ini mengabdikan diri untuk pembinaan generasi muda Sumbar. Sejak pertama kali didirikan 13 Agustus 1993 lalu sampai saat ini, tidak banyak sarana dan prasarana yang berubah. Tetapi untuk urusan ilmu, sepertinya kurikulum Ponpes Haji Miskin bisa dijadikan solusi atas permasalahan pendidikan saat ini.

Kegundahan sepertinya tidak bisa disembunyikan oleh Muhammad Agus Suryo. Walaupun senyum selalu menghiasi bibirnya, Pimpinan Ponpes Haji Miskin ini seakan ragu akan kelanjutan Ponpes kedepannya. Itu terlihat ketika wartawan koran ini menyambangi Ponpes yang terletak di kaki Gunung Singgalang, tepatnya di Palak Tankuah Koto Tinggi Pandai Sikek Kebupaten Tanah Datar, Minggu (17/02) kemarin.

Suasana pegunungan yang sejuk, lokasi yang jauh dari hiruk pikuk, seperti tidak ada arti bagi Ponpes Haji Miskin. Dari tahun ketahun jumlah santri tidak pernah mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun ajaran 2007/2008 saja cuma ada sekitar 60 orang santri. Padahal Ponpes membuka tiga kelas untuk tingkat madrasah dan tiga kelas juga untuk tingkat aliyah.

“Kurangnya sarana dan prasarana membuat orangtua engan menyekolahkan anaknya di sini,” kata Agus.

Ucapan Agus cukup beralasan. Ponpes yang menempati areal kira-kira seluas 1 hektar ini, cuma memiliki enam lokal, dua asrama (untuk laki-laki dan perempuan), lima buah ruangan tempat tinggal staf guru, satu buah dapur umum, dan sebuah masjid yang masih jauh dari selesai.

“Saat ini yang sangat medesak dibutuhkan adalah asrama.” Menurut pengakuan Agus, dulu ada orangtua tidak jadi memasukkan anaknya ke Ponpes gara-gara melihat kondisi asrama. “Kami memang mengasramakan semua santri, tetapi seperti yang bapak lihat, beginilah kondisi asrama,” lanjutnya sambil menunjuk ruangan asrama yang terbuat dari papan.

Selain itu Agus juga mengeluhkan kurangnya buku ajar. Perpustakaan seukuran 3×3 meter menurut Agus, miskin dengan buku ajar. Tidak adanya laboratorium dan peralatannya juga menjadi kendala bagai santri untuk melakukan praktikum pada mata pelajaran IPA.

Dengan uang  bulanan cuma Rp250.000, persantri untuk tiap bulan, Agus mengatakan hanya cukup untuk membiayai kosumsi santri sehari-hari. Biaya lainnya seperti gaji guru, biaya operasional Ponpes, diambilkan dari sumbangan donatur. Total kebutuhan Ponpes pebulannya sekitar Rp20.000.000, sedangkan yang bisa dipenuhi dari SPP santri dan bantuan imbal swadaya masyarakat hanya Rp15.000.000. “Kekuranganya yang membuat kami kian kemari dalam menutupi,” kata Agus.

Ponpes memiliki enam guru yang tidak digaji dari 26 orang. Mereka mengajar dengan sukarela. Selebihnya digaji bervariasi, dari yang paling rendah Rp90.000 sampai yang paling tinggi, Rp400.000 per bulan. “Ya begitulah, serba kekurangan. Gaji-pun dibayarkan setelah menerima sumbangan dari donatur,” jelas Agus.

Kendatipun demikian, untuk mutu pendidikan Agus menjamin tidak kalah bersaing dengan  sekolah konvensional. Bahkan menurut Agus pola pembinaan di Ponpes bisa menjadi solusi terhadap permasalahan pendidikan yang terjadi saat ini.

“Sekolah umum saat ini cenderung hanya mencerdaskan otak, sedangkan Ponpes tidak saja otak, tetapi jiwanya juga di cerdaskan dengan nilai-nilai agama. Bayangkan saja, sehari-hari siswa sudah diajar hidup teratur dengan aturan yang dibuat. Dan itu berlaku mulai mereka bangun sampai tidur lagi,” tutup Agus yang waktu itu didampingi Muhammad Idrid, guru bahasa inggris yang pernah menetap di Australia. (romelias akbar)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s